Review Jurnal
Judul : Konflik Suriah : Akar Masalah dan Dampaknya
Volume: Vol. 5 No. 1 Juni 2014
Penulis : - A.Muchaddam Fahham
-A.M. Kartaatmaja
Reviewer : Karisa Susanti
Tanggal : 22 november 2020
Di bagian abstrak jurnal ini menjelaskan mengenai sumber masalah atau penyebab lahirnya konflik Suriah bukanlah perbedaan mazhab keagamaan melainkan kepentingan politik dan ekonomi dari oposisi penentang Assad dan negara-negara pendukung oposisi, ada tiga aktor yang berperan dan terlibat dalam konflik suriah, Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya, oposisi Suriah, dan kelompok Jihadis. Dampak konflik bagi Suriah yaitu jatuhnya korban jiwa dan pengungsi.
PENDAHULUAN
Konflik di Suriah berawal dari sebuah protes terhadap penangkapan beberapa pelajar di kota kecil Daraa. Ketika itu Maret 2011, 15 pelajar berumur antara 9-15 tahun menulis slogan-slogan anti-pemerintah di tembok-tembok kota. Slogan-slogan itu berbunyi, “Rakyat menginginkan rezim turun ”. Melihat aksi 15 pelajar itu, polisi Suriah yang dipimpin oleh Jendral Atef Najib, sepupu Presiden Bashir al Assad menangkap dan memanjarakan anak-anak ini. Akibatnya, lahirlah gelombang protes yang menuntut pembebasan anak-anak tersebut. Reaksi tentara terhadap protes itu berlebihan, mereka menambaki para pemrotes dan mengakibatkan 4 orang meninggal. Reaksi itu tidak meredakan protes, sebaliknya protes semakin meluas dari Deraa menuju kota–kota pinggiran Latakia dan Banyas di Pantai Mediterania atau laut Tengah, Homs, Ar Rasta, dan Hama di Suriah Barat, serta Deir es Zor di Suriah Timur.
Protes dan demonstrasi ini kemudian berkembang menjadi perang sipil yang dahsyat. Perang ini tidak saja menggunakan senjata konvesional sebagaimana layaknya yang digunakan dalam perang, tapi juga menggunakan senjata kimia. Ada pandangan yang menyatakan bahwa perang yang saat ini terjadi Suriah adalah perang antara mazhab Syi’ah yang diwakili oleh Bashar al-Assad dan para penentangnya yang bermazhab Sunni. Pandangan ini dibangun atas fakta yang terjadi di Suriah: ada dua kekuatan besar yang sedang bertarung, yakni Arab Saudi yang bermazhab Sunni dan Iran bermazhab Syi’ah.7 Fakta lainnya adalah bahwa pemerintahan Assad didukung oleh Iran dan gerakan Hizbullah, Iran merupakan negara yang bermazhab Syi’ah dan Hizbollah adalah gerakan berhaluan Syi’ah yang bermarkas di Lebanon.
PEMBAHASAN
Konflik Suriah dapat dirunut dari peristiwa protes yang dilakukan oleh sekelompok pelajar Pada 23 Maret 2011, demonstrasi kembali melanda kota Daraa, pasukan keamanan kembali melepaskan tembakan untuk membubarkan para demonstran, pada kasus ini 20 orang demonstran dikabarkan tewas. Menyusul insiden tersebut, Presiden Bashar al-Assad, mengumumkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menerapkan reformasi politik, termasuk menghapus pembatasan partai politik dan menghapus hukum darurat Suriah yang telah diterapkan selama 48 tahun. Namun pengumuman itu diabaikan oleh para tokoh oposisi Suriah.
Pada 25 Maret 2011, setelah salat Jum’at, unjuk rasa kembali mengemuka di kota-kota seluruh negeri. Pasukan keamanan kembali berupaya membubarkan aksi unjuk rasa itu, namun unjuk rasa terus berjalan bahkan bertambah intens. Protes dan demonstrasi yang dilakukan oleh oposisi Suriah mendapat perlawanan dari rakyat Suriah pro-pemerintah, perlawanan itu ditunjukkan dengan melakukan demonstrasi besar-besaran di Kota Damaskus. Pada 29 Maret 2011 pemerintah Suriah mengumumkan pengunduran diri dari kabinet, hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan reformasi yang didengungkan oleh para demonstran. Satu hari setelah, pengumuman itu, Presiden Assad tampil untuk pertama kalinya di depan publik sejak kerusuhan melanda Suriah, dan menyampaikan pidato di hadapan dewan legislatif untuk meredam protes para demonstran dan mengklaim bahwa protes itu terjadi karena konspirasi yang dilakukan asing.
Assad menolak ajakan oposisi untuk melakukan percepatan reformasi dan mengatakan bahwa pemerintah akan melanjutkan rencananya untuk memperkenalkan reformasi secara bertahap. Setelah pidato tersebut, media pemerintah Suriah mengumumkan bahwa Assad telah membentuk sebuah komisi untuk mempelajari kemungkinan pencabutan hukum darurat.
Pemerintah juga mengumumkan bahwa Noruz, festival Tahun Baru yang di Rayakan oleh orang Kurdi sebagai hari libur nasional.Namun demikian, protes terus berlanjut, dan menyebar ke kota lainnya, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan penggunaan kekerasan oleh pasukan keamanan Suriah. Pada 8 April 2011, pasukan keamanan menembaki demonstran di beberapa kota Suriah, menewaskan sedikitnya 35 orang. Menyusul sebuah laporan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 200 orang. Muncullah kecaman internasional terhadap pemerintah Suriah.
Pasukan keamanan terus menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa di seluruh negeri, Assad menunjuk kabinet baru dan berjanji untuk melembagakan reformasi politik dan mencabut hukum darurat Suriah. Pada tanggal 19 April kabinet mencabut undang-undang darurat dan membubarkan Mahkamah Agung Keamanan Negara Suriah. Pengadilan yang khusus digunakan untuk mengadili pihak-pihak anti-pemerintah. Namun pemerintah Suriah juga mengambil tindakan untuk mempertahankan kekuasaannya dengan berupaya untuk meredam protes. Pemerintah Suriah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan masyarakat untuk mendapatkan izin dari pemerintah sebelum melakukan demonstrasi. Menteri dalam negeri Suriah yang baru diangkat mendesak rakyat Suriah agar tidak melakukan demonstrasi dengan menyatakan bahwa pemerintah akan terus menganggap demonstrasi sebagai ancaman nasional.
Segera setelah hukum darurat, pemerintah Suriah meningkatkan penggunaan kekerasan terhadap demonstran. Pada tanggal 22 April 2011 pasukan keamanan menembaki demonstran yang berkumpul setelah salat Jumat, menewaskan sekitar 75 orang, di tengah kecaman internasional yang dipicu oleh maraknya aksi pembunuhan, pemerintah Suriah melancarkan strategi baru untuk membungkam protes masyarakat dengan menyebarkan sejumlah besar pasukan yang dilengkapi dengan tank dan kendaraan lapis baja ke kota-kota Daraa, Baniyas, Homs, dan tiga lokasi yang dijadikan sebagai pusat anti-pemerintah. Di beberapa daerah di negeri ini, pemerintah memberlakukan pemadaman akses komunikasi, mematikan layanan telepon dan internet. Di Daraa, pasukan keamanan memotong pasokan air dan listrik.
Di bawah tekanan internasional, pemerintah Suriah pada bulan Desember mengizinkan kunjungan delegasi Liga Arab untuk memantau proses implementasi dari strategi tersebut. Meskipun kekerasan terus terjadi, penilaian yang diberikan oleh tim pemantau cenderung positif sehingga menuai kritik dari kelompok HAM dan oposisi Suriah. Pada pertengahan Januari 2012, kredibilitas delegasi yang telah mengundurkan diri mengklaim bahwa pasukan pemerintah Suriah telah memberikan laporan palsu dari rekaman video yang direkayasa. Setelah beberapa negara Arab menarik anggota tim mereka dari posisi sebagai observer Liga Arab secara resmi menangguhkan keberlanjutan misi pemantau pada 28 Januari dengan alasan kekerasan.Setelah kegagalan misi pemantau dari Liga Arab kekerasan terus meningkat. Pada awal Februari 2012, tentara Suriah melancarkan serangan kota Homs dengan membombardir wilayah yang dikuasai oposisi selama beberapa minggu. Pada bulan yang sama, Liga Arab dan PBB bersama-sama menunjuk Koffi Annan, mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai utusan perdamaian untuk Suriah. Upaya Annan untuk penghentian kekerasan sebagaimana dihadapi Liga Arab pada tahun 2011, digagalkan oleh keengganan rezim Suriah untuk mematuhi perjanjian yang telah disepakati. Gencatan senjata yang disuarakan oleh PBB berhasil mengurangi angka kekerasan pada pertengahan April. Namun gencatan senjata hanya bertahan selama beberapa hari sebelum konflik antara pasukan pemerintah dan oposisi kembali terjadi. PBB menghentikan operasi pemantauan pada bulan Juni atas alasan keamanan. Akibat peningkatan jumlah kekerasan yang terjadi selama musim panas 2012, Annan mengundurkan diri pada bulan Agustus dan digantikan oleh diplomat Aljazir, Lakhdar Brahimi.
Pada akhir tahun 2012, situasi militer tampaknya sudah mendekati jalan buntu. Pejuang pemberontak menguasai wilayah utara Suriah namun menghadapi kesulitan dalam penyediaan peralatan, persenjataan, dan aspek organisasi. Sementara itu, pasukan pemerintah juga semakin lemah akibat sejumlah aparatur yang berbalik memihak oposisi. Pertempuran masih berlanjut setiap hari di wilayah yang diperebutkan, menyebabkan semakin tingginya korban tewan dari masyarakat sipil.Dengan minimnya perkembangan yang terjadi di Suriah, negara-negara sekutu yang memihak pemerintah Suriah dan pemberontak sama-sama meningkatkan dukungan mereka yang menyebabkan meningkatnya kemungkinan perang sipil.24 Upaya Turki, Arab Saudi, dan Qatar untuk mendanai dan mempersenjatai pihak pemberontak semakin terlihat pada akhir 2012 dan awal 2013, sementara pemerintah Suriah terus menerima senjata dari Iran dan kelompok militan Libanon, Hizbullah. Akhir tahun 2012, Hizbullah juga mulai mengirim para pejuangnya sendiri ke wilayah Suriah untuk melawan para pemberontak.
KESIMPULAN
Akar masalah penyebab lahirnya konflik di Suriah bukanlah persoalan perbedaan mazhab keagamaan antara Bashar al-Assad yang bermazhab Syi’ah Alawiyah versus para oposisi yang bermazhab Sunni. Penyebab konflik juga bukan karena pemerintah Suriah tidak demokratis, seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya. Akar masalah yang menjadi penyebab konflik di Suriah adalah kepentingan politik dan ekonomi negara-negara pendukung oposisi yang menuntut penggantian rezim dan negara-negara yang mendukung Presiden al-Asaad. Tuntutan penggantian rezim dan pengunduran diri Presiden al-Assad merupakan pintu masuk lahirnya konflik dan perang di Suriah. Ada tiga aktor utama yang terlibat dalam konflik di Suriah, Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya, oposisi Suriah, dan Jihadis. Dampaknya bagi Suriah adalah jatuhnya korban jiwa dan pengungsi. Sejak meletusnya konflik pada Maret 2011 sampai dengan April 2013 jumlah korban meninggal sebanyak 150.000 jiwa. Sementara warga yang mengungsi sebanyak 2.4 juta orang, 3/4 di antara pengungsi itu adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 4 juta warga Suriah yang kehilangan tempat tinggal dan tetap bertahan di Suriah sampai sekarang. Bagi dunia internasional, konflik Suriah berdampak dalam penanganan pengungsi.
Kelebihan jurnal ini yaitu menggunakan bahasa yang dimengerti dan dipahami. Susunan jurnal yang sistematis sehingga dapat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Di dalam pembahasan jurnal ini juga memaparkan penyebab konflik di suriah dengan jelas.
Kekurangan juran ini yaitu metode dan teori penelitian tidak disampaikan dalam jurnal tersebut. Didalamnya tidak ada skup temporal yang membatasi waktu peristiwa tersebut terjadi.
Review Jurnal
Judul : Kebijakan Politik Pemerintahan Bashar Al-Assad di Suriah
Penulis : Mahadhir Muhammad
Volume : Vol. 6, No. 1, November2016
Publikasi : Jurnal Agama dan Hak Azazi manusia
Reviewer: Karisa Susanti
Tanggal : 22 November 2020
Di dalam abstrak menjelaskan bahwa kepemimpinan Bashar al Assad merupakan sebuah kesempatan untuk menilai sejauh mana kebijakan yang dilakukan pada awal pemerintahannya memimpin Suriah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan langkah-langkah apa saja yang dilakukan Bashar al Assad dalam kebijakannya untuk rakyat Suriah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kinerja Bashar al Assad sebagai seorang pemimpin yang dilihat melalui teori politik profetik.
Ada beberapa kebijakan yang dilakukan Bashar al Assad dalam kebijakan ekonomi, politik maupun luar negeri diantaranya, memperkenalkan reformasi ekonomi, mereformasi kebijakan ekonomi dengan diperbolehkannya partisipasi lokal dan investor asing, membebaskan tahanan politik anggota Partai Ba'ath Iraq dan membebaskan anggota komunis, mensahkan pendirian surat kabar pertamaal-Dumari, perubahan politik luar negeri Suriah terhadap Lebanon dengan membuka hubungan diplomatik penuh dengan Lebanon, proses damai untuk mengakhiri konflik dengan Israel dalam hal memperebutkan Dataran Tinggi Golan, hubungan dengan negara-negara teluk Arab, Iran, Mesir dan Yordania terjalin dengan baik.
PEMBAHASAN
Syria (Suriah) merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang mulai diperhitungkan keberadaannya pada era pasca Perang Teluk. Hal ini bukan tidak mungkin karena ada anggapan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah tercapai tanpa campur tangan Suriah. Jika dilihat ke belakang Suriah dahulu merupakan negara yang mempunyai banyak wilayah yang mencakup seluruh negara yang berada di Timur Mediterania antara lain : Yordania, Lebanon, Israel, dan Propinsi Turki Hatay tetapi akibat imperialis Eropa menyebabkan Suriah kehilangan wilayahnya Yordania dan Israel dipisahkan dengan berada di bawah mandat Inggris. Lebanon diambil untuk melindungi minoritas kristennya dan Hatay dikembalikan kepada Turki demi pertimbangan politik untuk Perancis.
Perancis dengan politik devide et imperanya berhasil membagi Suriah sendiri menjadi empat wilayah antara lain: Damascus, Lebanon Raya, Allepo dan Lantakia. Tahun 1925 Damascus dan Allepo dikembalikan kepada Suriah. Prancis pada tanggal 28 September 1941 memberikan kemerdekaan kepada Suriah, dan diikuti dengan proklamasi kemerdekaan bagi Lebanon pada 26 November 1941.2Sistem pemerintahan Suriah secara historis telah berubah dari sistem Monarkhi (Kerajaan) ke Republik. Adapun titik awal perubahan itu ketika Suriah mendapatkan hak kemerdekaan dari penjajahan Prancis. Namun hal tersebut tidak lantas membuat kondisi Suriah membaik. Suriah sudah mengalami tujuh kali kudeta kekuasaan yang berturut-turut.3Pasca peristiwa kudeta tersebut, kekuasaan Suriah dipegang oleh Hafez al Assad (1971-2000) diteruskan oleh putranya Bashar al Assad (2000-sekarang). Rezim Bashar al Assad telah berkuasa 15 tahun.
Kelanggengan Bashar al Assad berkuasa selama itu tidak terlepas dari isu keberhasilannya mengangkat Human Development Index (HDI) di Suriah, versi PBB berada dalam urutan 111. HDI adalah penilaian atas keberhasilan pembangunan di sebuah negara dengan berpatokan pada sejumlah variabel, seperti pendapatan penduduk, angka harapan hidup, angka melek huruf, dan tingkat pendidikan. Pada era tahun 1970-an hingga tahun 2000, Suriah adalah sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Presiden yang sangat anti terhadap Amerika Serikat dan Israel. Kala itu Suriah dipimpin oleh Hafez al Assad, seorang presiden yang sangat disegani oleh Amerika Serikat dan sekutunya karena sikapnya yang lantangmenentang berbagai kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Hafez6adalah seorang presiden yang konsisten menentang campur tangan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. Hafez juga merupakan seorang pemimpin yang mendukung kemerdekaan Palestina. Bersama Anwar Sadat (Mesir), mereka tergabung dalam aliansi perang melawan Israel dalam perang Yom Kippur.
Sepeninggal Hafez al Assad, tampuk kepemimpinan dipegang oleh salah seorang putranya, Bashar al Assad. Bashar melanjutkan kiprah politik ayahnya dengan tergabung dalam partai Ba'ath Suriah.8Bashar menggantikan ayahnya menjadi presiden dan menjalin hubungan yang baik dengan Iran, Rusia, China,Korea Utara dan beberapa negara Amerika Latin yang menentang imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya. Bashar melanjutkan kepemimpinan dan kiprah politik mendiang ayahnya dengan meneruskan perjuangan ayahnya.Selama memimpin Suriah, Bashar al Assad banyak menerapkan kebijakan diantaranya adalah di dalam kebijakan luar negeri Bashar al Assad mengupayakan alasan proses damai negara Arab dengan Israel, kehadiran militer Suriah di Lebanon, dan hubungan Suriah dengan dunia (sektor regional dan Internasional).
Dalam masalah perekonomian, kepemimpinan Bashar al Assad diharapkan dapat memberikan perubahan-perubahan pada bidang perbaikan ekonomi, sistem politik dan birokrasi. Menjelang berlangsungnya kepemimpinan Bashar al Assad, telah beredar kabar bahwa akan ada perbaikan di bidang ekonomi dan sistem politik. Pada kedua bidang tersebut, Bashar mengerahkan dukungan penuh dan mempererat kekuasaannya. Selanjutnya, dalam kebijakan politik, Bashar al Assad mewarisi sistem politik satu partai, didominasi oleh militer yang beraliran sekte Alawi. Pada tahun pertama pemerintahan Bashar al Assad, orang-orang yang bekerja di pemerintahannya tidak akan ditolerir jika tersangkut kasus korupsi. Bashar juga memperbarui sektor-sektor negara namun tetap mempertahankan struktur politik yang ada. Kepemimpinan Bashar al Assad menjadi harapan baru bagi rakyat Suriah.
KESIMPULAN
Upaya dan langkah-langkah yang dilakukan oleh presiden Bashar al Assad sebagai seorang pemimpin dalam kebijakannya di bidang ekonomi, politik dan luar negeri diantaranya:Pertama, Kebijakan Ekonomi; (1) Kebijakan yang dilakukan Bashar al Assad pada tahun 2005 dengan memperkenalkan reformasi ekonomi yang disebut "pasar ekonomi sosial" memberikan efek yang signifikan pada pembangunan di kota-kota besar seperti Damaskus dan Aleppo. (Humanisasi); (2) Bashar al Assad memperkenalkan tingkat kuasi non-transaksi komersial pada tahun 2001. Untuk mempermudah transaksi dalam perdagangan ekspor-impor dalam komoditas pasar. (Humanisasi); (3)
Dalam urusan pertanian, Bashar al Assad menargetkan untuk bisa mencapai swasembada pangan, meningkatkan swasembada ekspor dan menghentikan migrasi di luar pedesaan. (Humanisasi); dan (4) Bashar al Assad mereformasi kebijakan ekonomi dengan diperbolehkan partisipasi lokal dan investor asing. Hasilnya adanya perubahan dalam perekonomian. Dimana pertumbuhan secara riil meningkat di tahun 2001 dan 2002. (Humanisasi).
Kelebihan dari jurnal ini yaitu materi yang dijelaskan mudah dimengerti dan dipahami. Bahasa yang digunakan juga mudah untuk di pahami. Teori yang digunakan cukup mampu untuk menjamin keakuratan data sehingga mampu menjadi bahan pembelajaran mahasiswa
Kekurangan dalam jurnal ini yatu tidak ada skup temporal dan spasial serta metode sehinga tidak ada yang membatasi peristiwa tersebut. Dari segi penulisan sudah rapi dan menarik untuk dibaca.
Review jurnal
Judul : Dinamika Perang Suriah: Aktor dan Kepentingan
Volume: Vol. 2 No. 2 Juli – Desember 2019
Penulis : -Syarif Bahaudin Mudore
-Nurlaila Safitri
Reviewer : Karisa Susanti
Tanggal : 22 november 2020
Abstrak jurnal ini menjelaskan mengenai dua kepentingan utama yang membuat perang Suriah semakin rumit dalam beberapa tahun terakhir. Kepentingan nasional dan strategi hegemoni yang dimainkan aktor- aktor asing menandakan kuatnya ambisi ekonomi, terutama bisnis persenjataan dan minyak, dan transaksi kekuatan politik. Teori hegemoni dan kepentingan nasional diposisikan sebagai pisau analisis untuk mengindentifikasi kepentingan dan motif keterlibatan aktor-aktor negara dalam konflik Suriah.
PENDAHULUAN
Revolusi Arab Spring menandai adanya pihak oposisi yang menghendaki reformasi pemerintahan Bashar Al-assad, yang sejak lama dijalankan dengan prinsip monarki. Hasilnya, perang domestik terus berlanjut hingga hari ini. Namun, di sisi lain kecamuk yang terjadi di Suriah dimanfaatkan banyak pihak untuk menancapkan kepentingan mereka. Perebutan pengaruh dan kekuasaan aktor-aktor negara dalam kasus Suriah mengindikasikan adanya pertentangan kepentingan dan paradigma. Untuk menjelaskan hal ini, penulis menggunakan teori hegemoni dan national interest. Teori hegemoni Gramsci menyatakan bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcement. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata negara (state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer, polisi dan bahkan penjara. Perangkat kerja ini sagat jelas keberadaanya dalam perang Suriah, baik secara langsung maupun melalui jasa proxy war. Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata-pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa (Heryanto, 1997). Cara ini dilakukan atau diaplikasikan dalam berbagai medium, baik melalui otoritas agama, budaya atau kesukuan, dan afiliasi politik. Rakyat Suriah berada dalam pusaran ini, di mana mereka saling dibenturkan dan diadudomba untuk memperjuangkan kepentingan negara di satu pihak, dan pemberontak (oposisi) di pihak lainnya.
PEMBAHASAN
Pergolakan sosial di Suriah dimulai pada Maret 2011, protes anti-pemerintah meletus di Suriah. Protes ini diinspirasi oleh protes serupa di Timur Tengah sebagai akibat dari Musim semi arab. Rezim Assad merespons secara agresif terhadap protes damai hingga memperburuk situasi. Pihak pemerintah menginstruksikan faksi keamanan dan intelijen untuk membubarkan demonstrasi dengan tembakan langsung dan kekerasan. Berbagai peristiwa berubah menjadi mengerikan. Pada akhir 2011, perang bersenjata dimulai antara pasukan pemerintah dan pemberontak oposisi. Dalam perang, pemerintah yang pada dasarnya elite yang berkuasa diadu melawan aliansi pemberontak oposisi. Namun, kompleksitas perang telah meningkat karena campur tangan kekuatan global dan regional serta para jihadis Islam. Pergerakan jihadis dalam perang Suriah terfokus pada perebutan sebagian besar wilayah Suriah karena kekosongan politik yang diciptakan oleh perang. Tujuan utamanya adalah memperluas wilayah 'kekhalifahan' di Suriah dan Irak. Jihadis berperang melawan rezim juga oposisi. Sumber pendapatan utama mereka berasal dari perpajakan dan sumber daya di wilayah yang dikuasainya di Suriah dan irak.
a. Aktor perang suriah
1. Bashar Al-Assad: Sebagai presiden, taktik yang digunakan Bashar Al-Assad adalah dengan mengintegrasikan kekuatan militer ke dalam sistem pemerintahannya. Bashar Al-assad tidak hanya menguatkan barisan di dalam negeri, dia juga mengumpulkan dan membangun dukungan dan bantuan dari berbagai negara sahabat. Bagi negara-negara yang dianggap berpotensi untuk memberikan dukungan dan bantuan, Bashar Al-Assad membangun hubungannya lebih kuat. Dua negara yang menjadi pendukung utama kekuasaan dan kekuatan Bashar Al-Assad di Suriah adalah Rusia dan Iran.
2. Rusia: Rusia merupakan sekutu lama negara Suriah. Keberadaan pangkalan militer Rusia di Tartus memberikan keuntungan kepada Suriah dalam membantu menghalau serangan-serangan militer dari luar. Selain itu, letak geografis pangkalan ini memberikan keuntungan yang besar bagi Rusia dalam memantau situasi terkini di kawasan Timur Tengah. Pangkalan militer Tartus sangat efektif dalam memberikan pengaruh kekuatan militer yang ada di dalam negara Suriah.
Kerja sama yang dilakukan oleh Rusia dan Suriah adalah penjagaan dan patrol militer dalam menanggulangi aksi-aksi anarkis dari para pemberontak dan sekutunya. Rusia dan Suriah terlibat dalam kegiatan pelatihan militer bersama. Pasukan Suriah mendapatkan pengajaran mengenai sistem persenjataan yang telah dikirim Rusia. Hal ini dikarenakan sistem persenjataan Rusia sudah lebih maju dalam persaingannya di kancah internasional. Ada dua hipotesis menarik tentang peran Rusia bersama dengan china dalam konflik yang di suriah. menurut Seorge Samaan, Rusia bukan sedang mempertahankan Bashar Al-Assad, melainkan sedang mencari pengganti yang menjamin kepentingan Rusia di Suriah, mengingat Suriah adalah pijakan Rusia di kawasan Timur Tengah.
3. Iran: Iran dan Suriah merupakan dua negara yang memiliki hubungan luar negeri yang baik dan bagus. Kerja sama antara Iran dan Suriah sendiri sudah berlangsung lama, aitu sejak tahun 2006. Pada tahun itu, keduanya membangun pakta pertahanan ketika terjadi perang di Irak. Presiden Amerika saat itu, George W. Bush memberikan julukan pada Iran, Lebanon dan Suriah sebagai bagian dari “poros kejahatan”. Pandangan anti-barat dari negara-negara ini merupakan pandangan yang memperkuat mereka dalam menghadapi Barat di kawasan Timur Tengah. Iran, Lebanon an Suriah merupakan sekutu dalam mempertahankan eksistensi mereka menghadapi Arab Saudi di kawasan Timur Tengah. Iran sendiri membangun hubungan dan kerja sama dengan Suriah dan pasukan Hizbullah yang berada di Lebanon.
4. Turki: Turki dan Suriah tercatat memiliki hubungan baik sebelum terjadinya konflik di Suriah. Gelombang protes dalam negeri suriah mengakibatkan hubungan keduanya semakin renggang. Turki merekomendasikan reformasi dalam pemerintahan Bashar Al-assad dan Suriah lebih memilih untuk menyelesaikan konflik dalam negeri dengan cara mereka sendiri. Secara terang-terangan Turki mendesak Al-assad untuk mundur dari kursi presiden, demi terciptanya kedamaian dalam negeri Suriah. Namun desakan ini ditolak keras oleh pemerintahan Suriah. Akibatnya Turki memberlakukan sanksi untuk Suriah.
Setelah rentetan keretakan semakin besar, Turki menjadi salah satu negara yang tidak mendukung pemerintah Suriah dan berusaha menjatuhkan kekuatab Al-assad bersama dengan sekutunya.
5. Kurdi: Etnis Kurdi Suriah menempati wilayah bagian utara Suriah. Jumlah populasi etnis Kurdi Suriah adalah sekitar dua juta jiwa atau 10% dari total penduduk Suriah. Pada masa-masa awal pemberontakan, kelompok Kurdi sepakat berada dalam lingkaran oposisi melawan pemerintah Suriah. Namun, akhirnya kelompok kurdi sepakat untuk keluar dari lingkaran tersebut setelah terjadi negosiasi dengan pemerintahan suriah. Sebuah langkah penting yang diambil pemerintah Suriah dalam menghadapi tentara Kurdi adalah pemberian otonomi khususnya dalam bidang politik dan pemerintahan dimana suku Kurdi sudah lama mencita-citakannya. Pemerintah memberikan otonomi khusus kepada etnis Kurdi di wilayah utara.
6. Amerika Serikat dan Aliansi NATO: AS merupakan kelompok yang menghendaki demokratisasi di tanah syam ini. Sekutu-sekutunya juga memberikan dukungan yang sama kepada rakyat suriah untuk mendapatkan hak-hak demokrasi di negaranya. Arab Saudi termasuk sekutunya yang melakukan proxy war di Suriah. AS dan sekutunya sangat aktif dalam memberikan bantuan untuk para pemberontak/oposisi di Suriah. AS secara terang-terangan mengumumkan akan mengirimkan senjata untuk membantu para pemberontak dan pihak oposisi setelah meyakini tudingan penggunaan senjata kimia oleh pihak pasukan bashar al-assad.
Ada beberapa alasan yang membuat AS ikut campur dalam situasi politik di negara Suriah. Di satu sisi, AS menghendaki Presiden Bashar Al Assad untuk menyerahkan kekuasaannya dan melakukan transisi pemerintahan. Namun, di sisi lain AS belum menemukan pengganti yang cocok untuk mengisi kursi Al-Assad yang akan ditinggalkan. AS memiliki tiga alasan penting yang membuat mereka tidak berpaling dari kawasan Timur Tengah termasuk negara Suriah. Alasan pertama adalah AS berusaha untuk mempertahankan suplai minyak murah dari kawasan Timut Tengah. Kedua, AS memiliki tugas penting untuk menjaga eksistensi Israel atas palestina. Ketiga, mereka ingin mencegah munculnya kekuatan ideologis di kawasan Timur Tengah. Suriah merupakan salah satu negara yang mendukung kemerdekaan negara Palestina. Kontradiksi ini sudah tentu membawa keduanya saling berhadapan untuk mempertahankan kepentingan nasional masing-masing. Jatuhnya negara-negara sekutu AS yang memiliki peran penting memasok minyak murah ke AS akan mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri AS sendiri.
7. Kelompok oposisi dan pemberontak: Perang Suriah merupakan perang yang melibatkan beragam jenis pasukan. Pasukan-pasukan yang terlibat dalam konflik ini memiliki nama yang berbeda-beda dan memiliki cara yang berbeda juga dalam mencapai tujuannya masing-masing. Beberapa kelompok oposisi/pemberontak afiliasi yang berbeda terlibat pertempuran dengan pasukan pemerintah.
Dua kepentingan yang berperan besar dalam menggerakkan aktor aktor besar dalam konflik Suriah, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan perebutan pengaruh :
1. Kepentingan ekonomi: Timur Tengah memiliki minyak dan gas sebagai sumber daya alam yang menjadi objek rebutan negara-negara besar di dunia. Selain itu, Timur Tengah juga menjadi pasar yang subur untuk transaksi jual beli senjata. Banyak negara Timur Tengah yang terikat perjanjian jual beli senjata dengan AS atau Rusia. Suriah telah memiliki perjanjian jangka panjang dalam transaksi senjata dengan Rusia. Suriah memiliki hubungan baik dengan China dalam bidang ekonomi. Keduanya memiliki hubungan dagang sejak 2009. China telah memberikan perhatian yang lebih dalam membangun hubungan komersialnya dengan Suriah. Beberapa tahun ini, hubungan ekonomi keduanya mengalami penguatan. Hubungan dagang yang sangat signifikan antara China dan Suriah dapat diihat dari peran China sebagia negara pengimpor terbesar kedua ke Suriah.
2. Perebutan pengaruh: Timur Tengah adalah kawasan yang masih banyak dipengaruhi kekuatan luar. Turki merupakan negara yang aktif menebar pengaruh di negara-negara yang bergolak Arab Spring dan negara-negara yang berproses untuk perubahan besar. Turki selalu memosisikan diri sebagai pendukung rakyat bukan rezim, dengan konsisten dan tegas ia selalu mendukung proses perubahan di dunia Arab.
Kelebihan jurnal ini adalah memaparkan secara jelas dan lengkap mulai dari pendahuluan. Kata yang digunakan bersifat baku dan mudah dipahami. Serta dapat di implementasikan secara luas dalam berbagai media
Kekurangan metode dan teori penelitian tidak disampaikan dalam jurnal tersebut. Tidak skup temporal dan spasial dalam jurnal tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar