Review Jurnal
Judul :
Konflik Suriah : Akar Masalah dan
Dampaknya
Volume: Vol. 5 No. 1 Juni 2014
Penulis :
- A.Muchaddam Fahham
-A.M. Kartaatmaja
Reviewer
: Karisa Susanti
Tanggal : 22 november 2020
Di bagian abstrak jurnal ini menjelaskan mengenai sumber
masalah atau penyebab lahirnya konflik Suriah bukanlah perbedaan mazhab
keagamaan melainkan kepentingan politik dan ekonomi dari oposisi penentang
Assad dan negara-negara pendukung oposisi, ada tiga aktor yang berperan dan
terlibat dalam konflik suriah, Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya,
oposisi Suriah, dan kelompok Jihadis. Dampak konflik bagi Suriah yaitu jatuhnya
korban jiwa dan pengungsi.
PENDAHULUAN
Konflik di Suriah berawal dari sebuah
protes terhadap penangkapan beberapa pelajar di kota kecil Daraa. Ketika itu
Maret 2011, 15 pelajar berumur antara 9-15 tahun menulis slogan-slogan anti-pemerintah
di tembok-tembok kota. Slogan-slogan itu berbunyi, “Rakyat menginginkan rezim
turun ”. Melihat aksi 15 pelajar itu, polisi Suriah yang dipimpin oleh Jendral
Atef Najib, sepupu Presiden Bashir al Assad menangkap dan memanjarakan
anak-anak ini. Akibatnya, lahirlah gelombang protes yang menuntut pembebasan
anak-anak tersebut. Reaksi tentara terhadap protes itu berlebihan, mereka
menambaki para pemrotes dan mengakibatkan 4 orang meninggal. Reaksi itu tidak
meredakan protes, sebaliknya protes semakin meluas dari Deraa menuju kota–kota
pinggiran Latakia dan Banyas di Pantai Mediterania atau laut Tengah, Homs, Ar
Rasta, dan Hama di Suriah Barat, serta Deir es Zor di Suriah Timur.
Protes dan demonstrasi ini kemudian
berkembang menjadi perang sipil yang dahsyat. Perang ini tidak saja menggunakan
senjata konvesional sebagaimana layaknya yang digunakan dalam perang, tapi
juga menggunakan senjata kimia. Ada
pandangan yang menyatakan bahwa perang yang saat ini terjadi Suriah adalah
perang antara mazhab Syi’ah yang diwakili oleh Bashar al-Assad dan para
penentangnya yang bermazhab Sunni. Pandangan ini dibangun atas fakta yang
terjadi di Suriah: ada dua kekuatan besar yang sedang bertarung, yakni Arab
Saudi yang bermazhab Sunni dan Iran bermazhab Syi’ah.7 Fakta lainnya adalah
bahwa pemerintahan Assad didukung oleh Iran dan gerakan Hizbullah, Iran
merupakan negara yang bermazhab Syi’ah dan Hizbollah adalah gerakan berhaluan
Syi’ah yang bermarkas di Lebanon.
PEMBAHASAN
Konflik Suriah dapat
dirunut dari peristiwa protes yang dilakukan oleh sekelompok pelajar Pada 23
Maret 2011, demonstrasi kembali melanda kota Daraa, pasukan keamanan kembali
melepaskan tembakan untuk membubarkan para demonstran, pada kasus ini 20 orang demonstran
dikabarkan tewas. Menyusul insiden tersebut, Presiden Bashar al-Assad,
mengumumkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menerapkan reformasi
politik, termasuk menghapus pembatasan partai politik dan menghapus hukum
darurat Suriah yang telah diterapkan selama 48 tahun. Namun pengumuman itu
diabaikan oleh para tokoh oposisi Suriah.
Pada 25 Maret 2011,
setelah salat Jum’at, unjuk rasa kembali mengemuka di kota-kota seluruh negeri.
Pasukan keamanan kembali berupaya membubarkan aksi unjuk rasa itu, namun unjuk
rasa terus berjalan bahkan bertambah intens. Protes dan demonstrasi yang
dilakukan oleh oposisi Suriah mendapat perlawanan dari rakyat Suriah
pro-pemerintah, perlawanan itu ditunjukkan dengan melakukan demonstrasi
besar-besaran di Kota Damaskus. Pada 29 Maret 2011 pemerintah Suriah
mengumumkan pengunduran diri dari kabinet, hal ini dilakukan untuk memenuhi
tuntutan reformasi yang didengungkan oleh para demonstran. Satu hari setelah,
pengumuman itu, Presiden Assad tampil untuk pertama kalinya di depan publik
sejak kerusuhan melanda Suriah, dan menyampaikan pidato di hadapan dewan
legislatif untuk meredam protes para demonstran dan mengklaim bahwa protes itu
terjadi karena konspirasi yang dilakukan asing.
Assad menolak ajakan
oposisi untuk melakukan percepatan reformasi dan mengatakan bahwa pemerintah
akan melanjutkan rencananya untuk memperkenalkan reformasi secara bertahap.
Setelah pidato tersebut, media pemerintah Suriah mengumumkan bahwa Assad telah
membentuk sebuah komisi untuk mempelajari kemungkinan pencabutan hukum darurat.
Pemerintah juga
mengumumkan bahwa Noruz, festival Tahun Baru yang di Rayakan oleh orang Kurdi
sebagai hari libur nasional.Namun demikian, protes terus berlanjut, dan
menyebar ke kota lainnya, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan penggunaan
kekerasan oleh pasukan keamanan Suriah. Pada 8 April 2011, pasukan keamanan
menembaki demonstran di beberapa kota Suriah, menewaskan sedikitnya 35 orang.
Menyusul sebuah laporan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 200
orang. Muncullah kecaman internasional terhadap pemerintah Suriah.
Pasukan keamanan terus
menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa di seluruh negeri, Assad menunjuk
kabinet baru dan berjanji untuk melembagakan reformasi politik dan mencabut hukum
darurat Suriah. Pada tanggal 19 April kabinet mencabut undang-undang darurat
dan membubarkan Mahkamah Agung Keamanan Negara Suriah. Pengadilan yang khusus
digunakan untuk mengadili pihak-pihak anti-pemerintah. Namun pemerintah Suriah
juga mengambil tindakan untuk mempertahankan kekuasaannya dengan berupaya untuk
meredam protes. Pemerintah Suriah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan
masyarakat untuk mendapatkan izin dari pemerintah sebelum melakukan
demonstrasi. Menteri dalam negeri Suriah yang baru diangkat mendesak rakyat
Suriah agar tidak melakukan demonstrasi dengan menyatakan bahwa pemerintah akan
terus menganggap demonstrasi sebagai ancaman nasional.
Segera setelah hukum
darurat, pemerintah Suriah meningkatkan penggunaan kekerasan terhadap demonstran.
Pada tanggal 22 April 2011 pasukan keamanan menembaki demonstran yang berkumpul
setelah salat Jumat, menewaskan sekitar 75 orang, di tengah kecaman
internasional yang dipicu oleh maraknya aksi pembunuhan, pemerintah Suriah
melancarkan strategi baru untuk membungkam protes masyarakat dengan menyebarkan
sejumlah besar pasukan yang dilengkapi dengan tank dan kendaraan lapis baja ke
kota-kota Daraa, Baniyas, Homs, dan tiga lokasi yang dijadikan sebagai pusat
anti-pemerintah. Di beberapa daerah di negeri ini, pemerintah memberlakukan
pemadaman akses komunikasi, mematikan layanan telepon dan internet. Di Daraa,
pasukan keamanan memotong pasokan air dan listrik.
Di bawah tekanan
internasional, pemerintah Suriah pada bulan Desember mengizinkan kunjungan delegasi
Liga Arab untuk memantau proses implementasi dari strategi tersebut. Meskipun
kekerasan terus terjadi, penilaian yang diberikan oleh tim pemantau cenderung
positif sehingga menuai kritik dari kelompok HAM dan oposisi Suriah. Pada
pertengahan Januari 2012, kredibilitas delegasi yang telah mengundurkan diri
mengklaim bahwa pasukan pemerintah Suriah telah memberikan laporan palsu dari
rekaman video yang direkayasa. Setelah beberapa negara Arab menarik anggota tim
mereka dari posisi sebagai observer Liga Arab secara resmi menangguhkan
keberlanjutan misi pemantau pada 28 Januari dengan alasan kekerasan.Setelah
kegagalan misi pemantau dari Liga Arab kekerasan terus meningkat. Pada awal
Februari 2012, tentara Suriah melancarkan serangan kota Homs dengan membombardir
wilayah yang dikuasai oposisi selama beberapa minggu. Pada bulan yang sama,
Liga Arab dan PBB bersama-sama menunjuk Koffi Annan, mantan Sekretaris Jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai utusan perdamaian untuk Suriah. Upaya Annan
untuk penghentian kekerasan sebagaimana dihadapi Liga Arab pada tahun 2011,
digagalkan oleh keengganan rezim Suriah untuk mematuhi perjanjian yang telah
disepakati. Gencatan senjata yang disuarakan oleh PBB berhasil mengurangi angka
kekerasan pada pertengahan April. Namun gencatan senjata hanya bertahan selama
beberapa hari sebelum konflik antara pasukan pemerintah dan oposisi kembali
terjadi. PBB menghentikan operasi pemantauan pada bulan Juni atas alasan
keamanan. Akibat peningkatan jumlah kekerasan yang terjadi selama musim panas
2012, Annan mengundurkan diri pada bulan Agustus dan digantikan oleh diplomat
Aljazir, Lakhdar Brahimi.
Pada akhir tahun 2012,
situasi militer tampaknya sudah mendekati jalan buntu. Pejuang pemberontak
menguasai wilayah utara Suriah namun menghadapi kesulitan dalam penyediaan
peralatan, persenjataan, dan aspek organisasi. Sementara itu, pasukan
pemerintah juga semakin lemah akibat sejumlah aparatur yang berbalik memihak
oposisi. Pertempuran masih berlanjut setiap hari di wilayah yang diperebutkan,
menyebabkan semakin tingginya korban tewan dari masyarakat sipil.Dengan
minimnya perkembangan yang terjadi di Suriah, negara-negara sekutu yang memihak
pemerintah Suriah dan pemberontak sama-sama meningkatkan dukungan mereka yang
menyebabkan meningkatnya kemungkinan perang sipil.24 Upaya Turki, Arab Saudi,
dan Qatar untuk mendanai dan mempersenjatai pihak pemberontak semakin terlihat
pada akhir 2012 dan awal 2013, sementara pemerintah Suriah terus menerima
senjata dari Iran dan kelompok militan Libanon, Hizbullah. Akhir tahun 2012,
Hizbullah juga mulai mengirim para pejuangnya sendiri ke wilayah Suriah untuk
melawan para pemberontak.
KESIMPULAN
Akar masalah penyebab lahirnya konflik
di Suriah bukanlah persoalan perbedaan mazhab keagamaan antara Bashar al-Assad
yang bermazhab Syi’ah Alawiyah versus para oposisi yang bermazhab Sunni.
Penyebab konflik juga bukan karena pemerintah Suriah tidak demokratis, seperti
yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya. Akar masalah yang menjadi penyebab
konflik di Suriah adalah kepentingan politik dan ekonomi negara-negara
pendukung oposisi yang menuntut penggantian rezim dan negara-negara yang
mendukung Presiden al-Asaad. Tuntutan penggantian rezim dan pengunduran diri
Presiden al-Assad merupakan pintu masuk lahirnya konflik dan perang di Suriah.
Ada tiga aktor utama yang terlibat dalam konflik di Suriah, Presiden Bashar
al-Assad dan para pendukungnya, oposisi Suriah, dan Jihadis. Dampaknya bagi
Suriah adalah jatuhnya korban jiwa dan pengungsi. Sejak meletusnya konflik pada
Maret 2011 sampai dengan April 2013 jumlah korban meninggal sebanyak 150.000
jiwa. Sementara warga yang mengungsi sebanyak 2.4 juta orang, 3/4 di antara
pengungsi itu adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 4 juta warga Suriah yang
kehilangan tempat tinggal dan tetap bertahan di Suriah sampai sekarang. Bagi
dunia internasional, konflik Suriah berdampak dalam penanganan pengungsi.
Kelebihan jurnal ini
yaitu menggunakan bahasa yang dimengerti dan dipahami. Susunan jurnal yang
sistematis sehingga dapat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Di dalam
pembahasan jurnal ini juga memaparkan penyebab konflik di suriah dengan jelas.
Kekurangan juran ini
yaitu metode dan teori penelitian tidak disampaikan dalam jurnal tersebut.
Didalamnya tidak ada skup temporal yang membatasi waktu peristiwa tersebut
terjadi.
Review Jurnal
Judul
: Kebijakan Politik Pemerintahan Bashar
Al-Assad di Suriah
Penulis
: Mahadhir Muhammad
Volume
: Vol. 6, No. 1, November2016
Publikasi
: Jurnal Agama dan Hak Azazi manusia
Reviewer:
Karisa Susanti
Tanggal : 22 November 2020
Di
dalam abstrak menjelaskan bahwa kepemimpinan Bashar al Assad merupakan sebuah
kesempatan untuk menilai sejauh mana kebijakan yang dilakukan pada awal
pemerintahannya memimpin Suriah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan
langkah-langkah apa saja yang dilakukan Bashar al Assad dalam kebijakannya
untuk rakyat Suriah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menjelaskan bagaimana kinerja Bashar al Assad sebagai seorang pemimpin yang
dilihat melalui teori politik profetik.
Ada
beberapa kebijakan yang dilakukan Bashar al Assad dalam kebijakan ekonomi,
politik maupun luar negeri diantaranya, memperkenalkan reformasi ekonomi,
mereformasi kebijakan ekonomi dengan diperbolehkannya partisipasi lokal dan
investor asing, membebaskan tahanan politik anggota Partai Ba'ath Iraq dan
membebaskan anggota komunis, mensahkan pendirian surat kabar pertamaal-Dumari,
perubahan politik luar negeri Suriah terhadap Lebanon dengan membuka hubungan diplomatik
penuh dengan Lebanon, proses damai untuk mengakhiri konflik dengan Israel dalam
hal memperebutkan Dataran Tinggi Golan, hubungan dengan negara-negara teluk
Arab, Iran, Mesir dan Yordania terjalin dengan baik.
PEMBAHASAN
Syria
(Suriah) merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang mulai diperhitungkan
keberadaannya pada era pasca Perang Teluk. Hal ini bukan tidak mungkin karena
ada anggapan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah tercapai tanpa
campur tangan Suriah. Jika dilihat ke belakang Suriah dahulu merupakan negara
yang mempunyai banyak wilayah yang mencakup seluruh negara yang berada di Timur
Mediterania antara lain : Yordania, Lebanon, Israel, dan Propinsi Turki Hatay
tetapi akibat imperialis Eropa menyebabkan Suriah kehilangan wilayahnya
Yordania dan Israel dipisahkan dengan berada di bawah mandat Inggris. Lebanon
diambil untuk melindungi minoritas kristennya dan Hatay dikembalikan kepada
Turki demi pertimbangan politik untuk Perancis.
Perancis
dengan politik devide et imperanya berhasil membagi Suriah sendiri menjadi
empat wilayah antara lain: Damascus, Lebanon Raya, Allepo dan Lantakia. Tahun
1925 Damascus dan Allepo dikembalikan kepada Suriah. Prancis pada tanggal 28
September 1941 memberikan kemerdekaan kepada Suriah, dan diikuti dengan
proklamasi kemerdekaan bagi Lebanon pada 26 November 1941.2Sistem pemerintahan
Suriah secara historis telah berubah dari sistem Monarkhi (Kerajaan) ke
Republik. Adapun titik awal perubahan itu ketika Suriah mendapatkan hak
kemerdekaan dari penjajahan Prancis. Namun hal tersebut tidak lantas membuat
kondisi Suriah membaik. Suriah sudah mengalami tujuh kali kudeta kekuasaan yang
berturut-turut.3Pasca peristiwa kudeta tersebut, kekuasaan Suriah dipegang oleh
Hafez al Assad (1971-2000) diteruskan oleh putranya Bashar al Assad
(2000-sekarang). Rezim Bashar al Assad telah berkuasa 15 tahun.
Kelanggengan
Bashar al Assad berkuasa selama itu tidak terlepas dari isu keberhasilannya
mengangkat Human Development Index (HDI) di Suriah, versi PBB berada dalam
urutan 111. HDI adalah penilaian atas keberhasilan pembangunan di sebuah negara
dengan berpatokan pada sejumlah variabel, seperti pendapatan penduduk, angka
harapan hidup, angka melek huruf, dan tingkat pendidikan. Pada era tahun
1970-an hingga tahun 2000, Suriah adalah sebuah negara yang dipimpin oleh
seorang Presiden yang sangat anti terhadap Amerika Serikat dan Israel. Kala itu
Suriah dipimpin oleh Hafez al Assad, seorang presiden yang sangat disegani oleh
Amerika Serikat dan sekutunya karena sikapnya yang lantangmenentang berbagai
kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Hafez6adalah seorang
presiden yang konsisten menentang campur tangan Amerika Serikat dan Israel di
Timur Tengah. Hafez juga merupakan seorang pemimpin yang mendukung kemerdekaan
Palestina. Bersama Anwar Sadat (Mesir), mereka tergabung dalam aliansi perang
melawan Israel dalam perang Yom Kippur.
Sepeninggal
Hafez al Assad, tampuk kepemimpinan dipegang oleh salah seorang putranya,
Bashar al Assad. Bashar melanjutkan kiprah politik ayahnya dengan tergabung
dalam partai Ba'ath Suriah.8Bashar menggantikan ayahnya menjadi presiden dan
menjalin hubungan yang baik dengan Iran, Rusia, China,Korea Utara dan beberapa
negara Amerika Latin yang menentang imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya.
Bashar melanjutkan kepemimpinan dan kiprah politik mendiang ayahnya dengan
meneruskan perjuangan ayahnya.Selama memimpin Suriah, Bashar al Assad banyak
menerapkan kebijakan diantaranya adalah di dalam kebijakan luar negeri Bashar
al Assad mengupayakan alasan proses damai negara Arab dengan Israel, kehadiran
militer Suriah di Lebanon, dan hubungan Suriah dengan dunia (sektor regional
dan Internasional).
Dalam
masalah perekonomian, kepemimpinan Bashar al Assad diharapkan dapat memberikan
perubahan-perubahan pada bidang perbaikan ekonomi, sistem politik dan
birokrasi. Menjelang berlangsungnya kepemimpinan Bashar al Assad, telah beredar
kabar bahwa akan ada perbaikan di bidang ekonomi dan sistem politik. Pada kedua
bidang tersebut, Bashar mengerahkan dukungan penuh dan mempererat kekuasaannya.
Selanjutnya, dalam kebijakan politik, Bashar al Assad mewarisi sistem politik
satu partai, didominasi oleh militer yang beraliran sekte Alawi. Pada tahun
pertama pemerintahan Bashar al Assad, orang-orang yang bekerja di
pemerintahannya tidak akan ditolerir jika tersangkut kasus korupsi. Bashar juga
memperbarui sektor-sektor negara namun tetap mempertahankan struktur politik
yang ada. Kepemimpinan Bashar al Assad menjadi harapan baru bagi rakyat Suriah.
KESIMPULAN
Upaya
dan langkah-langkah yang dilakukan oleh presiden Bashar al Assad sebagai
seorang pemimpin dalam kebijakannya di bidang ekonomi, politik dan luar negeri
diantaranya:Pertama, Kebijakan Ekonomi; (1) Kebijakan yang dilakukan Bashar al
Assad pada tahun 2005 dengan memperkenalkan reformasi ekonomi yang disebut
"pasar ekonomi sosial" memberikan efek yang signifikan pada
pembangunan di kota-kota besar seperti Damaskus dan Aleppo. (Humanisasi); (2)
Bashar al Assad memperkenalkan tingkat kuasi non-transaksi komersial pada tahun
2001. Untuk mempermudah transaksi dalam perdagangan ekspor-impor dalam
komoditas pasar. (Humanisasi); (3)
Dalam
urusan pertanian, Bashar al Assad menargetkan untuk bisa mencapai swasembada
pangan, meningkatkan swasembada ekspor dan menghentikan migrasi di luar
pedesaan. (Humanisasi); dan (4) Bashar al Assad mereformasi kebijakan ekonomi
dengan diperbolehkan partisipasi lokal dan investor asing. Hasilnya adanya
perubahan dalam perekonomian. Dimana pertumbuhan secara riil meningkat di tahun
2001 dan 2002. (Humanisasi).
Kelebihan
dari jurnal ini yaitu materi yang dijelaskan mudah dimengerti dan dipahami.
Bahasa yang digunakan juga mudah untuk di pahami. Teori yang digunakan cukup
mampu untuk menjamin keakuratan data sehingga mampu menjadi bahan pembelajaran
mahasiswa
Kekurangan
dalam jurnal ini yatu tidak ada skup temporal dan spasial serta metode sehinga
tidak ada yang membatasi peristiwa tersebut. Dari segi penulisan sudah rapi dan
menarik untuk dibaca.
Review jurnal
Judul : Dinamika Perang Suriah: Aktor dan
Kepentingan
Volume: Vol. 2 No. 2
Juli – Desember 2019
Penulis : -Syarif
Bahaudin Mudore
-Nurlaila Safitri
Reviewer : Karisa
Susanti
Tanggal : 22 november 2020
Abstrak jurnal ini
menjelaskan mengenai dua kepentingan utama yang membuat perang Suriah semakin
rumit dalam beberapa tahun terakhir. Kepentingan nasional dan strategi hegemoni
yang dimainkan aktor- aktor asing menandakan kuatnya ambisi ekonomi, terutama
bisnis persenjataan dan minyak, dan transaksi kekuatan politik. Teori hegemoni
dan kepentingan nasional diposisikan sebagai pisau analisis untuk
mengindentifikasi kepentingan dan motif keterlibatan aktor-aktor negara dalam
konflik Suriah.
PENDAHULUAN
Revolusi
Arab Spring menandai adanya pihak oposisi yang menghendaki reformasi
pemerintahan Bashar Al-assad, yang sejak lama dijalankan dengan prinsip
monarki. Hasilnya, perang domestik terus berlanjut hingga hari ini. Namun, di
sisi lain kecamuk yang terjadi di Suriah dimanfaatkan banyak pihak untuk
menancapkan kepentingan mereka. Perebutan pengaruh dan kekuasaan aktor-aktor
negara dalam kasus Suriah mengindikasikan adanya pertentangan kepentingan dan
paradigma. Untuk menjelaskan hal ini, penulis menggunakan teori hegemoni dan
national interest. Teori hegemoni Gramsci menyatakan bahwa kekuasaan agar dapat
abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama,
adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat
memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang
bernuansa law enforcement. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan
oleh pranata negara (state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer,
polisi dan bahkan penjara. Perangkat kerja ini sagat jelas keberadaanya dalam
perang Suriah, baik secara langsung maupun melalui jasa proxy war. Kedua,
adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata-pranata
untuk taat pada mereka yang berkuasa (Heryanto, 1997). Cara ini dilakukan atau
diaplikasikan dalam berbagai medium, baik melalui otoritas agama, budaya atau
kesukuan, dan afiliasi politik. Rakyat Suriah berada dalam pusaran ini, di mana
mereka saling dibenturkan dan diadudomba untuk memperjuangkan kepentingan
negara di satu pihak, dan pemberontak (oposisi) di pihak lainnya.
PEMBAHASAN
Pergolakan
sosial di Suriah dimulai pada Maret 2011, protes anti-pemerintah meletus di
Suriah. Protes ini diinspirasi oleh protes serupa di Timur Tengah sebagai
akibat dari Musim semi arab. Rezim Assad merespons secara agresif terhadap
protes damai hingga memperburuk situasi. Pihak pemerintah menginstruksikan
faksi keamanan dan intelijen untuk membubarkan demonstrasi dengan tembakan
langsung dan kekerasan. Berbagai peristiwa berubah menjadi mengerikan. Pada
akhir 2011, perang bersenjata dimulai antara pasukan pemerintah dan pemberontak
oposisi. Dalam perang, pemerintah yang pada dasarnya elite yang berkuasa diadu
melawan aliansi pemberontak oposisi. Namun, kompleksitas perang telah meningkat
karena campur tangan kekuatan global dan regional serta para jihadis Islam.
Pergerakan jihadis dalam perang Suriah terfokus pada perebutan sebagian besar
wilayah Suriah karena kekosongan politik yang diciptakan oleh perang. Tujuan
utamanya adalah memperluas wilayah 'kekhalifahan' di Suriah dan Irak. Jihadis
berperang melawan rezim juga oposisi. Sumber pendapatan utama mereka berasal
dari perpajakan dan sumber daya di wilayah yang dikuasainya di Suriah dan irak.
a. Aktor
perang suriah
1. Bashar
Al-Assad: Sebagai presiden, taktik yang digunakan Bashar Al-Assad adalah dengan
mengintegrasikan kekuatan militer ke dalam sistem pemerintahannya. Bashar
Al-assad tidak hanya menguatkan barisan di dalam negeri, dia juga mengumpulkan
dan membangun dukungan dan bantuan dari berbagai negara sahabat. Bagi
negara-negara yang dianggap berpotensi untuk memberikan dukungan dan bantuan,
Bashar Al-Assad membangun hubungannya lebih kuat. Dua negara yang menjadi
pendukung utama kekuasaan dan kekuatan Bashar Al-Assad di Suriah adalah Rusia
dan Iran.
2. Rusia:
Rusia merupakan sekutu lama negara Suriah. Keberadaan pangkalan militer Rusia
di Tartus memberikan keuntungan kepada Suriah dalam membantu menghalau
serangan-serangan militer dari luar. Selain itu, letak geografis pangkalan ini
memberikan keuntungan yang besar bagi Rusia dalam memantau situasi terkini di
kawasan Timur Tengah. Pangkalan militer Tartus sangat efektif dalam memberikan
pengaruh kekuatan militer yang ada di dalam negara Suriah.
Kerja sama yang
dilakukan oleh Rusia dan Suriah adalah penjagaan dan patrol militer dalam
menanggulangi aksi-aksi anarkis dari para pemberontak dan sekutunya. Rusia dan
Suriah terlibat dalam kegiatan pelatihan militer bersama. Pasukan Suriah
mendapatkan pengajaran mengenai sistem persenjataan yang telah dikirim Rusia.
Hal ini dikarenakan sistem persenjataan Rusia sudah lebih maju dalam
persaingannya di kancah internasional. Ada dua hipotesis menarik tentang peran
Rusia bersama dengan china dalam konflik yang di suriah. menurut Seorge Samaan,
Rusia bukan sedang mempertahankan Bashar Al-Assad, melainkan sedang mencari
pengganti yang menjamin kepentingan Rusia di Suriah, mengingat Suriah adalah
pijakan Rusia di kawasan Timur Tengah.
3. Iran:
Iran dan Suriah merupakan dua negara yang memiliki hubungan luar negeri yang
baik dan bagus. Kerja sama antara Iran dan Suriah sendiri sudah berlangsung
lama, aitu sejak tahun 2006. Pada tahun itu, keduanya membangun pakta
pertahanan ketika terjadi perang di Irak. Presiden Amerika saat itu, George W.
Bush memberikan julukan pada Iran, Lebanon dan Suriah sebagai bagian dari
“poros kejahatan”. Pandangan anti-barat dari negara-negara ini merupakan
pandangan yang memperkuat mereka dalam menghadapi Barat di kawasan Timur
Tengah. Iran, Lebanon an Suriah merupakan sekutu dalam mempertahankan
eksistensi mereka menghadapi Arab Saudi di kawasan Timur Tengah. Iran sendiri
membangun hubungan dan kerja sama dengan Suriah dan pasukan Hizbullah yang
berada di Lebanon.
4. Turki:
Turki dan Suriah tercatat memiliki hubungan baik sebelum terjadinya konflik di
Suriah. Gelombang protes dalam negeri suriah mengakibatkan hubungan keduanya
semakin renggang. Turki merekomendasikan reformasi dalam pemerintahan Bashar
Al-assad dan Suriah lebih memilih untuk menyelesaikan konflik dalam negeri
dengan cara mereka sendiri. Secara terang-terangan Turki mendesak Al-assad untuk
mundur dari kursi presiden, demi
terciptanya kedamaian dalam negeri Suriah. Namun desakan ini ditolak keras oleh
pemerintahan Suriah. Akibatnya Turki memberlakukan sanksi untuk Suriah.
Setelah rentetan
keretakan semakin besar, Turki menjadi salah satu negara yang tidak mendukung
pemerintah Suriah dan berusaha menjatuhkan kekuatab Al-assad bersama dengan
sekutunya.
5. Kurdi:
Etnis Kurdi Suriah menempati wilayah bagian utara Suriah. Jumlah populasi etnis
Kurdi Suriah adalah sekitar dua juta jiwa atau 10% dari total penduduk Suriah.
Pada masa-masa awal pemberontakan, kelompok Kurdi sepakat berada dalam
lingkaran oposisi melawan pemerintah Suriah. Namun, akhirnya kelompok kurdi
sepakat untuk keluar dari lingkaran tersebut setelah terjadi negosiasi dengan pemerintahan
suriah. Sebuah langkah penting yang diambil pemerintah Suriah dalam menghadapi
tentara Kurdi adalah pemberian otonomi khususnya dalam bidang politik dan
pemerintahan dimana suku Kurdi sudah lama mencita-citakannya. Pemerintah
memberikan otonomi khusus kepada etnis Kurdi di wilayah utara.
6. Amerika
Serikat dan Aliansi NATO: AS merupakan kelompok yang menghendaki demokratisasi
di tanah syam ini. Sekutu-sekutunya juga memberikan dukungan yang sama kepada
rakyat suriah untuk mendapatkan hak-hak demokrasi di negaranya. Arab Saudi
termasuk sekutunya yang melakukan proxy war di Suriah. AS dan sekutunya sangat
aktif dalam memberikan bantuan untuk para pemberontak/oposisi di Suriah. AS
secara terang-terangan mengumumkan akan mengirimkan senjata untuk membantu para
pemberontak dan pihak oposisi setelah meyakini tudingan penggunaan senjata
kimia oleh pihak pasukan bashar al-assad.
Ada
beberapa alasan yang membuat AS ikut campur dalam situasi politik di
negara Suriah. Di satu sisi, AS menghendaki Presiden Bashar Al Assad untuk
menyerahkan kekuasaannya dan melakukan transisi pemerintahan. Namun, di sisi
lain AS belum menemukan pengganti yang cocok untuk mengisi kursi Al-Assad yang
akan ditinggalkan. AS memiliki tiga alasan penting yang membuat mereka tidak
berpaling dari kawasan Timur Tengah termasuk negara Suriah. Alasan pertama
adalah AS berusaha untuk mempertahankan suplai minyak murah dari kawasan Timut
Tengah. Kedua, AS memiliki tugas penting untuk menjaga eksistensi Israel atas
palestina. Ketiga, mereka ingin mencegah munculnya kekuatan ideologis di
kawasan Timur Tengah. Suriah merupakan salah satu negara yang mendukung
kemerdekaan negara Palestina. Kontradiksi ini sudah tentu membawa keduanya
saling berhadapan untuk mempertahankan kepentingan nasional masing-masing. Jatuhnya negara-negara sekutu
AS yang memiliki peran penting memasok minyak murah ke AS akan mempengaruhi
kondisi ekonomi dalam negeri AS sendiri.
7. Kelompok
oposisi dan pemberontak: Perang Suriah merupakan perang yang melibatkan beragam
jenis pasukan. Pasukan-pasukan yang terlibat dalam konflik ini memiliki nama
yang berbeda-beda dan memiliki cara yang berbeda juga dalam mencapai tujuannya
masing-masing. Beberapa kelompok oposisi/pemberontak afiliasi yang berbeda
terlibat pertempuran dengan pasukan pemerintah.
Dua
kepentingan yang berperan besar dalam menggerakkan aktor aktor besar dalam
konflik Suriah, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan perebutan pengaruh :
1. Kepentingan
ekonomi: Timur Tengah memiliki minyak dan gas sebagai sumber daya alam yang
menjadi objek rebutan negara-negara besar di dunia. Selain itu, Timur Tengah
juga menjadi pasar yang subur untuk transaksi jual beli senjata. Banyak negara
Timur Tengah yang terikat perjanjian jual beli senjata dengan AS atau Rusia.
Suriah telah memiliki perjanjian jangka panjang dalam transaksi senjata dengan
Rusia. Suriah memiliki hubungan baik dengan China dalam bidang ekonomi.
Keduanya memiliki hubungan dagang sejak 2009. China telah memberikan perhatian
yang lebih dalam membangun hubungan komersialnya dengan Suriah. Beberapa tahun
ini, hubungan ekonomi keduanya mengalami penguatan. Hubungan dagang yang sangat
signifikan antara China dan Suriah dapat diihat dari peran China sebagia negara
pengimpor terbesar kedua ke Suriah.
2. Perebutan
pengaruh: Timur Tengah adalah kawasan yang masih banyak dipengaruhi kekuatan
luar. Turki merupakan negara yang aktif menebar pengaruh di negara-negara yang
bergolak Arab Spring dan negara-negara yang berproses untuk perubahan besar. Turki selalu memosisikan
diri sebagai pendukung rakyat bukan rezim, dengan konsisten dan tegas ia selalu
mendukung proses perubahan di dunia Arab.
Kelebihan
jurnal ini adalah memaparkan secara jelas dan lengkap mulai dari pendahuluan.
Kata yang digunakan bersifat baku dan mudah dipahami. Serta dapat di
implementasikan secara luas dalam berbagai media
Kekurangan metode dan
teori penelitian tidak disampaikan dalam jurnal tersebut. Tidak skup temporal
dan spasial dalam jurnal tersebut.